Pada suatu sore yang cerah, Alfian bersemangat menuju lapangan desa untuk bermain bola. Dia tidak sendirian, di lapangan sudah ada dua sahabatnya, Sultan dan Alves. Sultan dikenal sebagai pemain gesit dengan dribelnya yang cepat, sedangkan Alves terkenal dengan tendangan kerasnya yang selalu tepat sasaran.
"Hei Sultan! Alves! Ayo main bola!" seru Alfian penuh semangat.
"Siap, ayo kita mulai!" jawab Sultan sambil mengoper bola ke arah Alfian.
Mereka bertiga membentuk tim yang kuat, saling oper, menggocek, dan menendang bola dengan lincah. Alves memberikan umpan lambung, Sultan mengejar bola lalu memberikan operan ke Alfian. Dengan gerakan akrobatik, Alfian melompat dan mencetak gol cantik dengan sundulan kepalanya.
"Waaah hebat, Alfian seperti Ronaldo!" seru Alves sambil bertepuk tangan.
"Iya dong, Alfian kan jagoannya desa kita," ujar Sultan bangga.
Mereka bertiga pun tertawa bersama, menikmati permainan seru sampai matahari mulai tenggelam. Setelah lelah bermain, mereka duduk di tepi lapangan sambil minum es teh manis yang segar.
"Besok main lagi ya!" kata Alfian bersemangat.
"Pasti dong! Alfian, Sultan, dan Alves kan tim terbaik di desa!" jawab Sultan penuh percaya diri.
Begitulah hari-hari Alfian bersama Sultan dan Alves, selalu penuh keceriaan, persahabatan, dan tentunya, sepak bola yang selalu mereka cintai.
No comments:
Post a Comment